Sunday, October 13, 2013

[FF Sadie] Hey senpai! (Chap1 part2)

Title: Hey Senpai
Cast: Sadie
Pairing: Mizuki X Mao
Genre: Romance, Yaoi
Rating: NC-17
Summary: cinta ini kadang-kadang tak ada logika *joged agnes*
Disclaimer: apaan ya?
btw, smut here!



Dua laki-laki berciuman itu..


Aneh


Tidak normal


Aku Mao. Belum pernah menjalani yang namanya cinta. Karena itu aku bingung ketika Mizuki menciumku. Yang aku tahu hanya orang pacaran yang melakukannya. Tapi kita kan hanya senpai dengan kohai. Senior dan junior. Sesama laki-laki. Apa itu cinta? atau hanya suka? atau hanya dencak kagum?

Logika vs perasaan. Benar, kadang mereka bertentangan. Secara logika aku harus menjauhinya. Ada yang salah dengan hubungan kita. Tapi secara perasaan aku tak membencinya, tak ada alasan untuk menjauhinya. Aku nyaman berbicara dengannya.

Kembali ke realitas.

Belakangan ini Mizuki tak banyak bicara. Salahku juga sih dia mengajak bicara tapi aku cuekkan. Dia mau mengobrol tapi aku selalu menghindar. Pura-pura sibuk. Lagipula sejak Mizuki memenangkan lomba itu, banyak mahasiswa baru yang bergabung di club. Perempuan juga ada. Aku jadi punya alasan sibuk dengan lebih memperhatikan mereka ketimbang Mizuki. Maaf aku gak bisa berhadapan langsung denganmu saat ini. Aku terlalu pengecut untuk menghadapi realita. Takut kalau ternyata kau benar-benar menaruh hati padaku dan aku tidak bisa membalasnya. Aku bisa membuatmu kecewa seperti gadis yang kutolak tempo lalu. Terlebih aku takut jika kita benar-benar menjalin hubungan. Bagaiman gunjingan orang-orang terhadap kita? Homo! tidak waras! Tidak normal! well, mungkin ini berlebihan tapi aku harus waspada.

"Apaaaaa?"

Aki melotot ke arahku karena aku mengatakan hal bodoh. Hal yang tidak pernah terpikirkan kalau aku yang mengatakannya. Kesalahan terbesar dalam hidupku. Tapi aku sudah tak tahan..

"Aku serius mau keluar dari club"

"Ingat tidak saat kita berdua berkomitmen untuk mengurus club ini? Kau bilang tidak akan meninggalkan club meskipun anggotanya tinggal kita berdua?"

Wajar Aki marah. Maki aku! Pukul aku! Apa saja yang bisa membuatmu puas. Aku tertunduk. Aku tahu aku salah dan akan menerima apapun konsekuensinya.

"Terserahlah" Aki mengangkat bahunya. "Mau gimana lagi"

Mengapa kau tidak memarahiku? Plis dengan cuek begitu aku jadi tambah merasa bersalah. Kalau bisa kau pukul saja wajahku. Aku tak akan menolak. Mungkin Aki bisa memahami situasi ini. Kau memang terlalu baik. Atau sebenarnya kau kecewa dan mau menghantamku secara psikologis?

"Maaf"

Lagi-lagi pernyataan bodoh. Apa maaf bisa menyelesaikan segalanya.

"Tidak boleh!!" tiba-tiba seseorang menyela pembicaraan kami. Mizuki.

"Senpai tidak boleh mengundurkan diri
"

"Mizu?" Aku tidak dapat berkata apapun. Tapi kenapa harus kamu yang datang dan tak sengaja mendengar pembicaraan kami?

"Kalau ada yang harus mengundurkan diri itu aku"

No Mizuki. Kau punya bakat. Kalau semua ini gara-gara aku, aku harus...

Aku bingung

Tak tahu harus berbuat apa.

"Mizuki tidak boleh keluar!"

"Kalau senpai boleh keluar kenapa aku nggak? Kalau nggak ada aku, senpai gak akan keluar. Ini salahku kan?"

Sebuah batu besar seperti menghantam diriku. Apa aku yang terlalu egois memutuskan ini sendiri?
Dahi Aki mengkerut. Wajar dia tidak tahu  masalah kami.

"Selesaikan dulu urusan kalian sebelum mengambil keputusan!"

Aki meninggalkan kami berdua saja di kelas. Ini pertama kalinya aku berhadapan kembali dengan Mizuki setelah lama cuek. Apa aku sanggup?

"Jika senpai akan keluar maka aku juga keluar. Senpai tidak akan keluar kalau aku yang keluar. Jadi lebih baik aku yang keluar kan"

Bodoh! Kau punya bakat lebih dari aku. Kau lebih pantas tetap tinggal. Sesungguhnya aku yang bodoh.

"Kalau senpai marah karena pernah aku cium aku janji tidak melakukannya lagi"

Marah? aku tidak marah padamu Mizuki, aku hanya bingung. Sialnya kenapa aku gak bisa mengatakannya.

"Tapi jika berada disekitarmu, aku gak akan tahan untuk melakukannya lagi karena itu biar aku ke..."

"Pergi saja jika kau mau!"

Aku menyesali perkataanku yang terlanjur keluar sendirinya. Mataku seolah berkabut. Air yang menggenang di kelopak mataku tidak bisa ditahan. Aku pergi. Berlari sejauh-jauhnya agar tidak ada yang melihatku menangis. Terlebih kau. Ini hukuman karena tidak jujur pada perasaanku sendiri.


Esoknya aku berlarian ke ruangan club. Aku harap dia tidak menanggapi omonganku serius dan masih bisa menemukan Mizuki. Aku segera membuka pintunya. YA tapi harapan itu kosong. Lututku seketika lemas saat tahu Mizuki tidak datang seperti biasanya.

"Mao ada yang harus kubicarakan" Aki menghantarku ke ruangan kosong agar tidak ada yang mendengar percakapan kami.

"Apa ada hubungannya dengan kemarin?"
aku bertanya seolah tidak tahu apa-apa padahal semua ini tanggung jawabku kan? Aku yang menyuruhnya pergi. Bukannya itu yang kumau? Bukankah hari-hariku bisa kembali normal?

"Dia bilang akan pulang kampung ke Hokkaido lalu menitipkan ini buatmu"

Aki menyerahkan amplop coklat kepadaku.
Sebelum meninggalkanku dia berpesan kembali.

"Kalau kalian ada masalah harusnya komunikasikan bukan melarikan diri kayak gini"

Aku segera membuka amplop coklat itu. Aku sukses dibuat termenung olehnya. Foto-fotoku dengan berbagai pose dan ekspresi. Aku bahkan hampir tidak mengenali diriku sendiri di foto itu. Mizuki mengambil gambar layaknya fotografer profesional. Juga sebuah surat.

Mao-senpai aku mengagumimu sejak lama dan lebih lagi setelah mengenalmu. Aku sadar perasaan ini tumbuh semakin besar tapi sepertinya aku bertepuk sebelah tangan. Aku berharap bisa melupakanmu setelah pergi nanti.
Mizuki

Aku mau meneteskan air mata lagi tapi kutahan. Aku segera berlari ke ruang guru untuk mendapatkan informasi tempat tinggalnya. Setelah dapat aku segera ke sana secepat mungkin. Untuk mencegah tindakan Mizuki yang akan membuat aku menyesal selamanya.

Aku berlari ke apartemennya. Kutekan tombolnya berulang-ulang tanpa jawaban. Aku menyerah. Mungkin dia sudah pergi. Aku bersandar di pintu rumahnya lalu tubuhku makin merosot ke lantai. Aku memang ingin menjaga jarak dengannya tapi bukan dengan cara seperti ini. Aku berharap masih bisa melihat wajahnya tersenyum meski dengan wanita lain bukan pria pengecut sepertiku. Aku menutup wajahku dengan tangan dan meremas-remas rambutku.

"Senpai"

Suara lembut yang kukenal itu menyapaku. Aku mendongak ke atas.

"Mizuki?"

Dia ikut berjongkok di depanku. Aku sukses dibuatnya tercengang. Dia masih belum pergi.

"Kau belum pergi?"

"Aku baru berangkat besok pagi"

Aku seharusnya senang dan memeluknya tapi...

Plaaaaaak!!!
Aku mendaratkan tamparan tepat di pipinya.

"Bodoh kenapa pamit dengan cara seperti ini? Kenapa tidak bicara langsung? Jelaskan tentang surat yang kau kirim itu!Jika kau benar menyukaiku apa semudah itu kau meninggalkanku?"

Wajah Mizuki tidak baik seperti biasanya. Jelas aku yang salah tapi menyalahkannya. Mizuki menoleh ke arahku. Dia berdiri sambil menarik tanganku masuk ke apartementnya.

"Akan aku jelaskan"

Mizuki menggiringku melihat sebuah foto dan juga sebuah piala. Aku tersentak, tidak menyangka kalau Mizuki dulu adalah pemenang lomba kontes fotografi se-Tokyo. Aku ingat pernah ikut kontes itu tapi tidak menang.

"Bagaimana kau..." tenggorokanku seolah tersangkut sesuatu.

"Kau ingat buku yang kuberikan padamu? Pengarang buku itu adalah ayahku. Buku itu sudah lama tidak dicetak ulang semenjak ayahku meninggal. Aku selalu minder, merasa tak mungkin menyamai ayah meskipun aku anaknya. Tapi beliau berhasil menyemangati aku hingga mau ikut kontes itu dan menang. Sepeninggalan ayahku aku kehilangan seorang penyemangat. You do same! Kau selalu optimis. Meski gagal dalam kontes itu aku tahu, kau tidak pernah menyerah dan terus meningkatkan kemampuanmu. Tidak seperti diriku yang slalu pesimis. Kau membangkitkan semangatku lagi dan lebih dari itu setelah mengenalmu selama setahun, aku begitu menyukaimu. Aku selalu diam-diam mengambil fotomu dan mencetaknya. Melihat senyummu di foto itu selalu membuatku tegar."

Aku mencerna semua perkataannya.

"Kau salah Mizuki. Aku tidak berani datang saat pengumuman pemenang. Aku bahkan depresi selama 3 bulan ketika tahu aku kalah."

Mizuki tiba-tiba memelukku dengan erat.

"I love you senpai"

"Apa yang--"

Perkataanku terputus karena Mizuki cepat membungkam mulutku dengan ciumannya. Aku memejamkan mata merasakan bibirnya menggerayangi isi mulutku. Tidak lagi! Aku memalingkan kepalaku dan melepaskan ciumannya. Aku berusaha melepas dekapan tubuhnya tapi dia memelukku semakin kencang.

"You love me too, don't you? Makanya kau tidak membiarkanku pergi"

"Itu tidak mungkin! Aku bukan wanita. Aku tak tahu apakah aku bisa tahan dengan reaksi orang-orang kalau tahu hubungan kita."

"Mao-senpai aku tidak peduli apa kata orang selama kita saling mencintai"

"I can't"

Mizuki mendorongku hingga tempat tidur. Kakinya mengunci kakiku dan bahuku ia tekan ke ranjang hingga aku sulit bergerak.

"Dengar senpai, aku menunggu hal ini lebih dari setahun. Jawab aku, apa kau mencintaiku?"

Tentu saja dengan posisi kami saat itu aku berpikir Mizuki akan nekad macam-macam.

"Pikirkan dulu sebelum kau melakukan hal bodoh. Kita sesama lelaki tidak akan bisa bersatu"

"Senpai tidak menjawab pertanyaanku. Aku tidak peduli apakah kau laki-laki atau bukan selama aku mencintaimu dan kau juga mencintaimu"

Mizuki mencium tengkukku dan leherku. Benar kan dia akan melakukan itu dan aku harus menyadarkannya.

"Stop, don't! Jangan gila"

"Ya i love you like crazy. And it's your fault, i can't hold this anymore."

He touch my mouth with his passionate kiss again. Aku terus berusaha menghindar dan tidak membuka mulutku. Dia terhenti tapi tetap tidak bergeming dari posisinya.

"Look my eyes! Bisakah kau menjawab pertanyaanku yang tadi? Apa kau mencintaiku?"

Aku benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaannya. Mulutku terkunci. Aku takut salah menjawab. Aku bahkan tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Yang aku tahu aku tidak mau dia pergi. Aku masih ingin melihatnya di sini.

"Senpai tidak bisa menjawab kan? Kuanggap artinya iya"

Mizuki seenaknya memutuskan. Kamu bukan Mizuki yang kukenal. Sekarang aku melihatnya seperti setan yang akan memakanku bulat-bulat.

"Don't!"

Dia membuka kemejaku dengan paksa dan mengikat pergelangan tanganku dengan itu. He kiss me deeper. His hand play with my nipple. I shiver. Aku melenguh saat dia melepaskan ciumannya. Hanya desahan kecil yang bisa keluar dari mulutku when he suck my nipple and lick it with his tongue. Kakiku, tubuhku mencoba berontak tapi tubuhnya terlalu kukuh untuk dirobohkan. dia menurunkan resleting celanaku dan membukanya dengan paksa. Dia juga.

"Apa yang kaulakukan bodoh!!"

He take my underware too! My body is too honest.

"So you are ready getting hard? Kawaii senpai"

"what do you think baka! Don't play with it!!"

Mizuki tidak dapat dicegah. He suck it.

"Aaah nnggg hh hh don't! Stop!"

He stop but he open my leg and push it. His finger come into that hole and seek the spot. Aku mengerang kesakitan.

"Not there! It hurts"

Aku tak tahan dan menangis.

"Hurry then stop it please"

"be quite. I'm sure to finish it when you already come"

He insert something bigger than his finger. It's in and out. My body move follow his rhytm.

"Ngg ghhh aghh" He do that faster and deeper.

"Aah hhh nggghhh Mizuki stop"

He kiss my mouth again during do it. Wajahku basah oleh keringat dan airmata. Segala kesakitan itu kini berubah menjadi kenikmatan ketika aku mencapai klimaks. Then my lower body feel wet when i coming.

Logika vs perasaan.

Lagi-lagi logikaku lumpuh bahkan kini mati. Dorongan perasaan itu terlalu kuat. Mungkin benar orang bilang cinta itu buta. Dalam konteks Mizuki sekarang, tidak lagi melihat kelamin. Asalkan kau selalu di sampingku dan mendampingiku, aku akan kuat menahan semua sesak di dadaku.

~~~

"Senpai, you smell so good"

"Berhenti menggodaku!"

"Ugh galak hehe"

Ya kami beraktivitas di kampus seperti biasa karena Mizuki tidak jadi pergi dan tidak ada yang mengundurkan diri. Sejak saat itu dia masih suka membuntutiku dan membantuku mencetak foto.
"Belum selesai nih, awas saja kalau hasilnya rusak. Minggir gak!"
Mizuki bergelayutan di bahuku. Aku berkeringat. Firasatku buruk. Apalagi saat itu gelap gulita. Ya kami sedang mencetak foto di kamar gelap. Aku gak akan membiarkan hal itu terjadi lagi tanpa seijinku.

"Senpai" Dia berbisik ke telingaku. Aku mencoba menghindar. Tapi yang ada kakiku tersandung.

"Hwaaa"

Aku terjatuh dan dia menolongku, menopang kepalaku sebelum sempat terbentur lantai.

Kreeeet
"Kalian lam---"

Tiba-tiba pintu terbuka. Aki melihat kami dengan posisi sama-sama dilantai. Aku panik.

"Bukan seperti yang kau lihat kami hanya..."

"Silahkan teruskan." Jawabnya dengan wajah cool seperti biasa sebelum menutup pintu dengan cepat.

Braaaaaak

Aki menutup pintunya lagi dan meninggalkan kami. Aku cepat-cepat berdiri.

"Aki pasti salah paham! Aku harus..."

"Aki-senpai sudah tahu"

"Huuuuuuuuuh???"

"Jangan salah paham. Aku gak bilang apa-apa padanya. Waktu aku menitipkan surat padamu dia tiba-tiba sudah bisa menebaknya."

"Lalu kenapa kau santai-santai saja. Kalau dia tahu lalu.." aku makin panik.

"Aki-senpai berjanji akan tutup mulut"
Tetap saja aku khawatir. Tapi Mizuki bisa menenangkanku.

"ne
Senpai...Are we lover now?"

"Huh?? Shut up!!"

Hmm maybe...

~~~~~ Chapter 1 END~~~~~

No comments: