Friday, September 26, 2014

Doushitemo Furetakunai Movie


Doushitemo furetakunai movie review

Warning: Spoiler alert, this movie contain homosexual content

Mau mencoba review movie BL satu ini karena saat awal kemunculan beritanya saya sudah punya ekspetasi cukup tinggi. Dari Trailer tentu saya berharap banyak dan masih mengacu pada manganya.

Jujur gak begitu kenal sama aktor2nya kecuali Kousuke dan itupun cuma pernah nonton 1 movie, 1 dorama dan 2 theater. Awalnya aku meragukan dan agak 'berharap' setelah lihat apperancenya untuk film ini, Kousuke jujur saya gak kenal kamu disini haha. Dari film2 n theater yang dia peranin kebanyakan tokoh tengil,energik, konyol, dan sejenisnya yang memang sesuai sama kepribadian aslinya. Awalnya aku ragu kamu bisa jadi sosok sependiam Shima nak. Untuk Taniguchi-san, surpricingly berubah setelah hairdo ala Togawa. Secara tinggi badan pas lah. Yang saya rasa aneh malah pemeran Onoda dan Deguchi walaupun peran minor di film ini. Onoda kurang tegap, tapi aktingnya cukup bagus kok. Untuk Deguchi satu kata saja , ketinggian XD .



Untuk properti dan figuran, sepertinya bu sutradara masih belum punya banyak modal ya?(maaf bu) tapi dibanding drama BL yang sudah ada selama ini, movie ini paling 'sederhana', not too much figuran dan latar tempat, serta backsound yg sederhana dan tanpa theme song. Boleh dibilang 'indie'. Rada kecewa sih karna harusnya bisa lebih dengan backsound yg memadai.

Untuk scene, beberapa scene di manga dihilangkan dan bisa dibilang cukup berpengaruh, sebaliknya ada beberapa adegan yang tidak ada di manga ditambahkan. Beberapa humor scene seperti Togawa jatuh dari tempat tidur Shima pun tidak ada, adegan di kereta waktu mantan Shima nelepon dan dijawab togawa bilang 'we are in middle of doing ecchi thing' juga kaga ada, padahal itu kenangan paling nge'jleb' waktu Shima ditinggal Togawa ke Kyoto, juga bed scenenya kurang banyak~~ *pengennya*. Lalu Kosuke sebagai Shima kurang kurang sarcasm. Harusnya waktu Shima ditanya nama dia cuma nunjukkin nametag. Juga kurang POV untuk masing2 karakternya padahal perlu juga tuh. Padahal running time baru 1 jam 24 menit, masih bisa ditambah jadi 2 jam tuh XD. Togawa-nya kurang nakal dikit. Beberapa scene cukup aneh misalnya saat di taman ada anak kecil nendang bola tapi bolanya gak sampai di depan kaki togawa kaya di manga, berentinya kejauhan. Lalu kiss scene sehabis makan dimana seharusnya tempat umum dimana banyak orang berkeliaran dirubah jadi tempat sepi yang cuma 2 org lewat, jadi kurang greget XD.

Adegan awal dimulai dengan flashback Shima keluar dari kantornya yang lama. Membedakan adegan flashback yang dibuat hitam putih menurutku ide yang bagus. Tapi sangat disayangkan waktu mimpi, Shima bangun seolah2 mimpinya biasa saja, tak mengganggunya sama sekali. Waktu perkenalan Shima-nya Kosuke itu kurang kuudere. Kesanku pada Shima versi manga, Shima bukan pemalu,hanya introvert dan tidak banyak ekspresi, namun cerdas dalam menanggapi kata-kata Togawa. Awalnya saya tak melihat itu dalam Shima versi Movie (saat perkenalan) tapi di scene2 berikutnya mulai nampak Shima versi manga di movie.
Sehabis acara makan2 menyambut kehadiran Shima di kantor hubungan Togawa x Shima mulai luwes. Sayang ketika adegan Togawa menganggu Shima yang sedang kerja dan memanggilnya berulang-ulang, kesan Togawa seperti orang salah tingkah itu kurang nakal, kurang mencerminkan bos yang urakan. Mungkin karna kalau di manga Togawa mengganggu Shima berulang2 dalam jeda waktu berbeda, sedangkan di movie dalam waktu yang sama. Jadilah Togawa yg kbingungan cara buat ngajak Shima keluar walau akhirnya Togawa maksa Shima berenti kerja dan membawanya k restoran. Hey bos apa gak melanggar jam kerja tuh? LoL
Lalu adegan ciuman di taman sudah kuceritakan di awal. Nah kalau versi movie saat Shima diajak ke rumahnya Togawa kesannya kaya dirape begitu saja XD padahal kalau di manga dijelaskan kalau waktu ciuman di rumah Togawa 'itu' nya Shima hard. Malu kali ya klo dceritakan XDa Dan setelah habis dirape baru sadar Shima gay kok kesannya jadi awkward. Ya sudahlah ya yang penting ada bedscene #plak. Tapi saya bersyukur waktu adegan Togawa baru pulang dari Kyoto dan melihat ekspresi Shima waktu bilang 'sabishiimasen', Kosuke bisa membuat ekspresi yang sama dengan di manga. Ah itu adegan favoriteku juga di . Adegan dimana Togawa menceritakan masa lalunya memang tidak ada flashback seperti di manga, sebagai gantinya menggunakan fokus kamera pada rokok Togawa yang terbakar dan itu ide yang cukup baik. Poin plus waktu Togawa pergi ke Kyoto, Shima melihat ke tempat biasa Togawa merokok terasa ngangenin Togawa banget tapi dengan ekspresi datar Shima seperti biasa , thats good scenery too. Selanjutnya Shima tetap pasif dan Togawa tetap agresif, tapi akhirnya Shima kelihatan mulai membuka hati pada saat adegan dimana Shima mencium Togawa duluan. Scene ini juga favoriteku. Tapi ya seperti yang sudah dijelaskan, sayang banget adegan di kereta waktu mantan Shima nelepon itu dihilangkan. Padahal bisa bikin lebih sedih di adegan terakhir waktu Shima mengenang masa2 Togawa belum pindah kerja dan itu salah satu kenangan paling 'jleb' buat Shima. Adegan dari Shima baru tahu Togawa bakal dipindahtugaskan hingga akhir paling bagus menurutku. Tapi sayang lagi2 bedscene di manga dihapus. Adegan tengah salju tetep paling the best. Ending di movie berbeda dengan di anime tapi keduanya sama-sama bagus.

Secara akting sudah cukup baik sih walau belum sempurna walau beberapa adegan feelnya kurang dapet. Tapi waktu Shima nangis itu bagus banget, kesan nyeseknya dapet. Favorite-ku tetep waktu di tengah salju pas Shima nyatain cinta dan terakhirnya di peluk. Cuma perlu catetan buat ibu produser, kalau ngeshoot dari jauh itu jangan kejauhan juga kali bu XD gak keliatan ekspresinya tuh pas Shima dicium pertama kali padahal di makingnya Kosuke udah all out ekspresinya, anglenya juga perlu diperhatikan, di beberapa tempat anglenya kurang pas.








score:
Plot 7/10
Akting 8/10
Shoot taking: 6.5/10

No comments: